Tips Mendaki Gunung untuk Difabel Ala Sabar Gorky

Tips Mendaki Gunung untuk Difabel Ala Sabar Gorky
Foto: Pendaki Cantik - Instagram/@sabargorky

#PendakiCantik – Sabar Gorky, difabel daksa yang mampu membuktikan kalau kondisi tubuh bukan penghalang untuk melakukan sesuatu yang spektakuler. Termasuk mendaki gunung.

Naik gunung dengan medan yang berat, cuaca dan tekanan udara yang berbeda, sampai penggunaan berbagai peralatan mendaki gunung yang butuh keterampilan dan pengetahuan khusus memang tampak agak berat bagi difabel.

Namun, prestasi Sabar Gorky menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk Irfan Ramdhani. Pria 30 tahun ini aktif dalam kegiatan pecinta alam.

Tips Mendaki Gunung untuk Difabel Ala Sabar Gorky
Foto: Pendaki Cantik – Instagram/@sabargorky

Irfan mengalami disfungsi kaki kiri karena terjatuh dari ketinggian 10 meter saat berlatih single rope technique pada 2010. Irfan pun mendapatkan banyak masukan dari Sabar Gorky, termasuk dalam hal mendaki gunung untuk difabel.

Berikut tips dari Sabar Gorky yang dibagikan Irfan Ramdhani bagi difabel yang ingin naik gunung:

Pakai jasa porter untuk membawa barang

Sorang tunadaksa yang hendak mendaki gunung tidak boleh membawa beban yang terlalu berat. Pendaki difabel daksa cukup membawa diri sendiri.

Porsi latihan fisik

Tips Mendaki Gunung untuk Difabel Ala Sabar Gorky
Foto: Pendaki Cantik – Instagram/@sabargorky

Porsi latihan fisik difabel daksa harus lebih banyak ketimbang pendaki non-difabel. Semua pendaki harus melakukan latihan fisik sebelum naik gunung.

Untuk pendaki tunadaksa mesti menambah porsi latihan fisik tersebut. Jika non-difabel dua jam, maka untuk difabel butuh latihan fisik lima jam.

Merancang estimasi waktu perjalanan

Perjalanan bagi pendaki difabel daksa akan memakan waktu lebih lama. Sebab itu, perlu merancang estinasi waktu yang lebih lama.

Pendamping

Tips Mendaki Gunung untuk Difabel Ala Sabar Gorky
Foto: Pendaki Cantik – Instagram/@sabargorky

Selain porter, difabel yang hendak naik gunung juga harus didampingi sekurangnya tiga orang. Formasinya satu di depan, satu di tengah dan satu di belakang.

Akan lebih baik jika dapat didampingi oleh lima orang, dengan dua orang menjaga di sisi kanan dan kiri pendaki tunadaksa.

Menurut Irfan Ramdhani, pendampingan ini sangat berguna bagi tunadaksa. Dia mengaku sempat beberapa kali terjatuh di Gunung Semeru kemudian diselamatkan oleh rekan yang mendampinginya.

Sesuaikan cara melangkah dengan medan

Tips Mendaki Gunung untuk Difabel Ala Sabar Gorky
Foto: Pendaki Cantik – Instagram/@sabargorky

Seorang pendaki tundaksa harus mampu menyesuaikan cara berjalan dengan medan yang ada. Apabila kondisi jalur cukup landai, dia bisa mendaki dengan tongkat seperti biasa. Namun saat medannya menyempit, dia harus berjalan miring.

Semantara pada jalur yang menanjak atau terjal, dia harus merangkak atau menyeret tubuhnya. Pada jalur yang menanjak dan tidak begitu terjal, Irfan berjalan mundur.

Hindari turun gunung dengan berjalan kaki

Irfan Ramdhani mengatakan sebagian besar kecelakaan terjadi justru saat menuruni gunung.

Untuk pendaki difabel, Irfan menyarankan hindari jalan kaki ketika menuruni gunung. Cara yang biasa digunakan Irfan dalam perjalanan turun adalah dengan ditandu oleh beberapa orang.