Perjuangan di Lereng Pendakian Rinjani

Mudah-mudahan kisahku menjadi penyemangat untukmu juga, menggapai puncak Rinjani.

Perjuangan di Lereng Pendakian Rinjani
Pendakian Rinjani | @sya_karen

Aku selalu bermimpi bisa mendaki dan menjejakkan kaki di gunung impian. Rinjani, gunung impianku. Selalu ada secercah harap untuk bisa ke sana, menikmati indah sejuta pesona yang selalu memukau mata tiap pendaki.

Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Tanggal 12 Mei – 22 Mei 2015. Hari di mana aku memulai perjalanan yang cukup panjang. Sebuah perjalanan yang selalu ditunggu sejak lama.

Baca: Mahameru: Titipan Manis dari Sahabat

Mendaki ke Rinjani

Masih jelas membekas di angan situasi hari itu. Binar bahagia terpancar di mataku. Seakan senyum indah enggan lepas dari bibirku. Sungguh, aku sangat bahagia saat itu.

Sulit untuk ku lukiskan dengan kata. Hanya aku yang paham apa yang ku pikirkan, rasakan, dan alami hari itu.

13 Mei, momen sejarah itu dimulai. Bersama tiga orang sahabat aku memulai perjalanan menuju gunung impian. Rinjani.

Ya, Gunung Rinjani. Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia yang ada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan yang lumayan jauh jika dibayangkan.

Baca: Wajah-wajah Cantik di Pendakian Gunung Merbabu

Aku tinggal di daerah Jawa Barat, Bandung tepatnya. Dengan pesawat kami berangkat dari Bandung menuju Lombok. Ada hal lucu dan unik karena hari itu aku pertama kali naik pesawat.

Gugup; takut; cemas; gembira berbaur jadi satu dalam rongga dada. Namun, tekadku untuk bersua dengan Rinjani terlampau kuat dan mendobrak segala perasaan yang mungkin sanggup membatalkan perjalanan hari itu.

Setiba di Lombok, kami bergabung dengan empat orang sahabat yang sudah menunggu di sana. Kelompok kecil kami berjumlah delapan orang.

Melalui perundingan dan pertimbangan yang matang, kami memulai perjalanan dari jalur Sembalun. Jalur Sembalun adalah salah satu jalur pendakian gunung Rinjani yang indah, banyak sekali hamparan sabana-nya.

Bukit Penyesalan, Rinjani

Salah satu tempat persinggahan favorit para pendaki sebelum mencapai puncak Rinjani adalah Bukit Penyesalan.

Banyak cara dan gaya sahabat pendaki menjelaskan mengapa dinamakan Bukit Penyesalan. Ada yang mengatakan karena akan menyesal jika tak sempat mampir di bukit itu.

Ada juga yang bilang karena sangat menyesal bisa ada di perjalanan itu sebab sangat melelahkan dan menguras tenaga.

Baca: Jejak Pendakian Gunung Gede – Pangrango

Entahlah, bagaimana pendapatku nanti ketika sampai di persinggahan itu, Bukit Penyesalan.

Pendakian pun dimulai. Perjuangan untuk menggapai puncak Rinjani bukanlah pekerjaan mudah. Trek yang benar-benar menguji nyali dan kesabaran.

Naik turun bukit, susuri lereng bebatuan, panas, lapar dan dahaga jadi teman setia yang harus terus sabar untuk diladeni.

Kadang ada rasa ingin kembali dan mengakhiri semuanya kala pijakan seakan tak sanggup lagi menopang tubuhku yang mungil.

Namun dukungan sahabat seperjalanan dan ambisi untuk menggapai mimpi terus membara dan membakar semangat untuk terus melangkah meski dengan langkah tertatih.

Menjejak di 3726 Mdpl

Akhirnya, 17 Mei 2015, aku dan sahabat sependakian menjejakkan kaki di puncak Rinjani. Meski dengan langkah terseok dan raga yang kian lelah aku mampu menggapai Rinjani impianku.

Senyum bangga tersirat di wajah. Rasa lelah dan putus asa seakan sirna. Beribu syukur aku lantunkan kepada-Nya. Dengan tenaga yang tersisa kukenakan baju wisudaku untuk mengabadikan momen indah di puncak Rinjani, gunung impianku.

Kini lelahku terbayar. Sejuta pesona yang Rinjani sajikan di depan mata membuatku makin sadar bahwa begitu indah karya agung pencipta.

Baca: Aku dan Kenangan di Puncak Gunung

Banyak hikmah yang kuperoleh sekembali dari Rinjani. Pelajaran hidup untuk menyusun masa depanku kelak. Satu hal yang pasti bahwa untuk menggapai mimpi butuh perjuangan dan kesabaran yang panjang.

Tidak mudah. Terkadang kerikil dan jurang jadi penghalang dan penguji untuk mengukur seberapa sanggup kamu mampu menghadapi dan melewatinya. Karena setelahnya akan ditemukan puncak terindah yang diimpikan.

Selamat berjuang sahabat. Mudah-mudahan kisahku menjadi penyemangat untukmu juga.

*Kontributor: @siska_kusmayanti