#PendakiCantik – Cerita pertemuan antara pendaki dengan seorang petapa di Gunung Wilis, Jawa Timur beberapa hari ini viral di media sosial facebook.

Kisah pertemuan tersebut diunggah oleh akun Facebook atas nama Mas Ari Purnomo Adi pada Minggu (31/8/2020).

Dalam ceritanya, Ari menjelaskan bahwa ia bertemu dengan seorang petapa bernama Hamzah (47), seorang pria asal Tulungagung yang sudah bertapa di Gunung Wilis selama 2,5 tahun.

Hamzah tinggal di sebuah gubung di Puncak Trogati Gunung Wilis sebelum kemudian bertemu dengan Ari.

Kronologi Pertemuan

Melansir kumparan.com, Ari menjelaskan bahwa dirinya tidak sengaja bertemu dengan petapa tersebut.

Pada waktu itu, ia bersama rekannya mendaki Gunung Wilis untuk mencari jejak habitat harimau Jawa.

Selain itu, ia juga untuk meneliti suksesi (perubahan ekosistem) setelah sebagian area gunung tersebut terbakar.

Mereka berangkat pada Sabtu (30/8/2020) dan sampai di puncak Wilis pukul 08.00 WIB. Disana, ada sebuah gubug yang berpenghuni dan itu adalah Hamzah.

Bertapa Selama 20 Tahun

Bertapa di Gunung Wilis, Begini Cara Hamzah Bertahan Hidup
Foto: Pendaki Cantik – FB/@masaripurnonomoadi

Hamzah sendiri menurut keterangan Ari sudah menjadi petapa selama 20 tahun terakhir. Pada periode itu, ia sering berpindah-pindah tempat dan ke Trogati sejak 2,5 tahun lalu.

Alasan pemilihan Gunung Wilis sebagai tempat bertapa juga didapti Ari saat berbincang dengan Hamzah selama berada di puncak.

Hamzah ternyata memiliki seorang guru yang juga bertapa di Trogati. Ia mengikuti napak tilas gurunya tersebut sehingga turut memilih Gunung Wilis sebagai tempat pertapaan.

Cara Bertahan Hidup

Bertapa di Gunung Wilis, Begini Cara Hamzah Bertahan Hidup
Foto: Pendaki Cantik – FB/@masaripurnonomoadi

Info paling menarik dari pertemuan mereka adalah ketika Hamzah menceritakan caranya bertahan hidup di Puncak Gunung Wilis.

Hal ini cukup masuk akal mengingat di area puncak gunung tersebut tidak ditemukan sumber mata air sama sekali.

Hamzah menuturkan bahwa meski tidak ada mata air, ia secara periodik turun untuk mengambil perbekalan. Ia biasanya makan tiwul (tepung singkong) dan tidak makan nasi dan tidak makan daging.

Untuk menyambung makanan, Hamzah juga mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan yang ada di area gunung itu. Seperti, bayam gunung, sawi gunung, selada air, dan gingseng.

Sementara untuk dapat air, Hamzah harus turun ke jurang di sebelah kanan kiri tempatnya, ada jurang, di situ ada mata air.

Share.