Aku dan Kenangan di Puncak Gunung

Adakah kisah yang ingin kamu abadikan untuk nantinya dijaring kembali saat rindu mendera?

Aku dan Kenangan di Puncak Gunung
Ke Puncak Gunung - Ist.

Sedang apa, Pendaki Cantik? Mari rehat sejenak dan mengumpulkan kembali ingatan tentang perjalanan mendaki gunung di bawah tema: Aku dan Kenangan.

Aku dan Kenangan Masa Lalu

Artikel ini bermula dari curhatan seorang sahabat Pendaki Cantik akan ingatannya tentang seseorang dari masa lalu. Ya, pendakian dan puncak gunung menyimpan masa lalu, untuknya (apakah juga untukmu?).

Seperti apakah ceritanya tentang seseorang dari masa lalu itu? Ini dia, kisahnya:

“Entahlah. Apa aku masih boleh mengingatnya? Atau, haruskah kuhempaskan semua ingatan ini jauh-jauh bersama renai gerimis senja yang seakan enggan berhenti?

Saat itu, kita sedang dalam masa-masa tersulit. Melewati satu cobaan terbesar dalam sebuah hubungan. Kita butuh sesuatu yang baru, penyegaran juga cerita baru.

Tak pernah terbayang akan menyusuri setiap jejak tanah berliku nan terjal. Memasuki hutan belantara yang entah masih adakah macan di dalamnya. Rasa takutku perlahan hilang karena sebuah rasa penasaran. Entah apa yang ada di puncak sana. Tetapi, bersamamu semua pasti akan terjaga.

Kita mulai berjalan perlahan, hingga akhirnya hujan mengguyur membasahi tubuh kita. Tak henti, semangat kian menjadi, perlahan namun pasti. Hingga malam tiba, dalam sebuah tenda yang hanya beralaskan matras dan berselimut kantung tidur, kita terlelap pasrah karena lelah. Esok, mungkin kan abadi.

Tiba sang mentari bergejolak memancar, kita bersiap menyambut. Dengan segala pengharapan kehangatan pagi, kita tersenyum menang.

Aku dan Kenangan Masa Lalu
“Tentang seseorang dari masa lalu” | @dewisamra

‘Selamat hari jadi Pohon Kecil-ku, maafkan aku,’ ucap sang Tuan Senja.

Aku mengangguk tanda permintaan maaf kuterima. Kita berpeluk lalu mengabadikan kebahagiaan dalam setiap foto.

Kini, semua hanya tinggal sebuah kenangan. Kau bersama keegoisanmu pergi. Setidaknya foto ini mengingatkan, engkaulah orang pertama yang mengajakku pergi melihat indahnya negeri.

Terima kasih Tuan Senja-ku, tetaplah mengagumkan meski tanpa pelukku.

Aku dan Kenangan Bersama Soulmate

Gunung dan bukit juga menjadi saksi bisu tentang suka-dukamu bersama soulmate-mu. Di atas sana, persahabatan kalian benar-benar diuji: apakah kalian benar-benar solid dan saling menjaga satu sama lain.

Saat kalian sama-sama lulus, keinginan untuk mendaki bareng lagi, pasti akan selalu ada.

Aku dan Kenangan Bersama Soulmate
“Bersama sahabat sejati” | @liamurniati19

Bisa saja, yang terjadi justru sebaliknya. Orang yang sebelumnya kamu anggap sebagai sahabat terbaikmu, justru mendadak berubah menjadi ‘orang lain’ saat kalian mendaki bersama.

Ya, gunung memang medan ujian sejati, tempat kita bisa menguji arti persahabatan yang sesungguhnya. (Baca juga: Sahabat Seperjalanan)

Aku dan Kenangan Bersama ‘Kalian’

Setiap perjalanan tentunya menyimpan cerita unik tersendiri, terutama tentang kebersamaan bersama rekan-rekan dalam satu tim pendakian.

Kenangan akan hal itu adalah ingatan tentang bagaimana kamu menemukan kelebihan dan kekuranganmu, sembari di saat yang sama, mengenal keunikan setiap pribadi yang menjadi rekanmu.

Aku dan Kenangan Bersama ‘Kalian’
“Senyuman dalam kebersamaan” | @opy.el_muzh

Di satu perjalanan, kamu mungkin akan menjadi bagian dari sebuah tim yang solid, yang sportif, dan yang saling mendukung satu sama lain.

Namun, di lain waktu, kamu mungkin akan berada dalam sebuah tim yang anggota-anggotanya hanya sibuk memikirkan diri sendiri dan egonya masing-masing.

Pernah punya pengalaman unik dalam sebuah tim? (Baca juga: Berteduh di Naungan Atap Yang Sama)

Aku dan Kenangan Bersama ‘Mantan’

Berbahagialah jika kamu punya kenangan mendaki bersama mantan pacar yang kini telah menjadi tunangan atau suamimu, #Eaaa.

Ternyata terjalnya tebing dan dalamnya ngarai membuatmu mantap untuk memilih dia sebagai sang pendamping setiamu untuk selamanya. Selamat ya…

Kenangan tentang perjalanan kalian tentu akan menjadi cerita menarik untuk diwariskan ke anak cucu.

Aku dan Kenangan Bersama 'Mantan'
“Aku kan selalu menjagamu” | @rheyerey

Bagaimana jika si dia adalah ‘mantan pacar’ dalam arti sebenar-benarnya? Bagaimana jika dia adalah ‘sang mantan’ hati, yang kini telah menjadi milik orang lain? Kamulah yang berhak menentukan perasaanmu terhadapnya.

Punya pengalaman tentang itu, dan masih ingin menyampaikan pesan kepada sang mantan lewat Pendaki Cantik? Hmmm… (Baca juga: Jika Nanti)

Aku dan Kenangan Bersama Keluarga

Gunung akan menjadi ingatan akan seseorang dalam keluargamu jika dia-lah yang pertamakali memperkenalkan dan mengajarimu untuk menjadi seorang penjelajah dan petualang. Siapakah dia?

Mungkin dia adalah ayahmu, ibumu, atau saudaramu. Bersyukurlah jika mereka adalah orang yang pertamakali menjadi teman sependakianmu.

Ya! Karena masih banyak sahabat Pendaki Cantik di luaran sana yang selalu terhalang oleh larangan dari keluarganya. Berterimakasihlah selalu bahwa kamu memiliki keluarga yang mendukungmu untuk melakukan hobbymu.

Bersyukurlah karena mereka selalu mendoakanmu agar sukses dalam setiap apa yang kamu lakukan. Ingatlah mereka di setiap puncak kesuksesanmu. (Baca juga: Terima Kasih Untukmu)

Aku dan Kenangan Bersama Keluarga
“Pergilah berpetualang, Nak” | @denisnadiasariatika

Demikian sharing singkat kita kali ini dalam episode ingatan tentang puncak gunung.

Apakah kamu punya pengalaman yang ingin dibagikan kepada seseorang atau kepada Pendaki Cantik di seluruh Indonesia?

Atau, adakah kisah yang ingin kamu abadikan untuk nantinya dijaring kembali saat rindu begitu deras mendera?

Sampaikan di kolom komentar atau kirimkanlah untuk dimuat di postingan berikutnya.

*Kontributor: Dewi Samra, Rana