10 Etika Seorang Pendaki Gunung

Pendaki Cantik: @nelly_damayanti_siagian

10 Etika Seorang Pendaki Gunung
Nelly Damayanti Siagian - Instagram

Pendaki Cantik – Dalam kehidupan sehari-hari kita harus selalu menjunjung tinggi etika. Sebab itu adalah hal utama untuk membina kerukunan, kenyamanan, dan keamanan dalam hidup bermasyarakat.

Begitu pun pada saat mendaki gunung. Ada etika yang harus dipahami dan dijaga, tertuang dalam lisan maupun tulisan, agar kegiatan mendaki dapat berjalan dengan lancar dan nyaman.

Baca10 Peralatan Dasar Seorang Pendaki Gunung

Berikut ini akan diurakan secara singkat 10 etika seorang pendaki gunung yang dirangkum sahabat Pendaki Cantik dari berbagai sumber.

1. Mengurus Simaksi Sebelum Mendaki

Mengurus surat ijin masuk konservasi atau Simaksi kepada pihak pengelola terkait sebelum mendaki adalah salah satu etika utama sebelum mulai naik gunung. Fungsinya untuk mendata identitas diri dan mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi selama di gunung.

Jika kamu belum turun gunung sesuai dengan waktu yang tertera di Simaksi, maka pengelola gunung akan mencaritahu apa yang terjadi. Bahkan jika diperlukan, pengelola gunung akan meminta tim SAR untuk melakukan pencarian di hutan.

Etika Pendaki: Mengurus Simaksi Sebelum Mendaki
ID – @nelly_damayanti_siagian

2. Menghargai Sesama Pendaki

Hal yang paling penting dan selalu diingat oleh para pendaki adalah untuk saling bertegur sapa saat berpapasan dengan pendaki lain. Sebab, saat di gunung kita adalah saudara seperjalanan yang memiliki hobi yang sama dan tujuan yang sama.

Karenanya, penting disadari untuk saling membantu jika mengalami kesusahan saat di puncak. Dengan kata lain, sebelum mengakrabkan diri dengan alam, mulailah dengan bersahabat dengan sesama pendaki.

Etika Pendaki: Menghargai Sesama Pendaki
ID – @nelly_damayanti_siagian

3. Menghormati Kehidupan di Alam Liar

Selama berada di hutan, jangan memberi makan hewan yang ditemui. Tidak diperkenankan juga membuang sampah makanan sembarangan, sebab akan dimakan oleh binatang yang hidup di hutan tersebut.

Jika mendengar suara alam atau hewan, sebaiknya tidak berisik sebagai bentuk menghargai keberadaan mereka. Alam liar adalah rumah mereka. Etika sebagai tamu yang datang berkunjung, kita mesti menghargai mereka sebagai tuan rumah.

Menghormati Kehidupan di Alam Liar
ID – @nelly_damayanti_siagian

4. Biarkan Apa yang Dilihat dan Ditemukan

Ya, ketika naik gunung, para pendaki adalah tamu. Sebagai tamu haruslah sopan dan tidak mengubah apapun yang ada di hutan.

Tidak boleh merusak hutan misalnya mencoret batu atau papan penunjuk arah di hutan, mencabut tumbuhan atau menebang pohon, dan hewan hutan tidak boleh dibawa pulang.

Biarkan Apa yang Dilihat dan Ditemukan
ID – @nelly_damayanti_siagian

Baca10 Latihan Dasar Sebelum Mendaki Gunung

5. Membuang Limbah Dengan Benar

Membuang limbah dengan benar, mulai dari kotoranmu sampai pada sisa makanan. Jika kamu ingin Buang Air Besar (BAB), beberapa tips dapat dipakai sebagai panduan.

Carilah tempat yang jauh dr jalur pendakian dan tenda, lalu gali lubang yang cukup dalam. Setelah BAB, jangan lupa untuk menimbun kembali lubang tersebut.

Membuang Limbah Dengan Benar
ID – @nelly_damayanti_siagian

6. Tidak Meninggalkan Sampah

Meningkatnya antusiasme orang mendaki gunung terkadang kurang disertai kesadaran menjaga alam. Tampilan saat foto di puncak menjadi orientasi utama, tetapi abai dengan kelestarian alam dengan membuang sampah sembarangan.

Sekarang ini, sampah yang ditinggalkan pendaki sangat banyak dan situasi ini membuat banyak gunung yang tercemar. Sebaiknya dan merupakan kewajiban para pendaki untuk selalu membawa kembali sampahnya selama mendaki.

Tidak Meninggalkan Sampah
ID – @nelly_damayanti_siagian

7. Menjujung Tinggi Adat Istiadat Setempat

Ada nasihat bijak para tetua yang tertuang dalam peribahasa “Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung”. Nila etika dalam peribahasa ini juga berlaku saat mendaki gunung; kita harus selalu menjunjung tinggi etika dan adat istiadat setempat.

Jika kita menjunjung tinggi adat istiadat mereka, kita akan diperlakukan secara hormat dan dihargai. Begitu pula sebaliknya. Selain itu, wajib bagi seorang pendaki untuk selalu berbicara dan berperilaku sopan terhadap para warga yang tinggal di kawasan gunung.

Menjujung Tinggi Adat Istiadat Setempat
ID – @nelly_damayanti_siagian

8. Tidak Mengambil Apa yang Bukan Milik

Saat ini, banyak pendaki yang tidak lagi menghiraukan kelestarian hutan. Misalnya, memetik bunga Edelweiss atau mengambil benda yang ditemukan di hutan untuk dibawa pulang sebagai bukti bahwa dirinya sudah pernah naik gunung.

Sebaiknya, hal itu tidak boleh dilakukan karena semua itu bukan milik kita. Cukup abadikan moment itu dengan kamera mungilmu.

Tidak Mengambil Apa yang Bukan Milik
ID – @nelly_damayanti_siagian

BacaWajah-wajah Cantik di Pendakian Gunung Merbabu

9. Jangan Mencemari Sumber Air

Sumber mata air di pegunungan tidak hanya digunakan oleh para pendaki, tetapi juga para penduduk sekitar gunung, tumbuh-tumbuhan, juga hewan-hewan yang berhabitat di gunung.

Karenanya, pendaki gunung punya kewajiban untuk memelihara kelestarian alam gunung, termasuk di dalamnya sumber air. Saat naik gunung, usahakan untuk berhati-hati dan seefisien mungkin menggunakan air.

Etika Pendaki: Jangan Mencemari Sumber Air
ID – @nelly_damayanti_siagian

10. Memilih Tempat Berkemah yang Tepat

Kondisi geografis dan lingkungan sekitar sangat penting untuk diperhatikan saat ingin mendirikan tempat berkemah. Pemilihan tempat berkemah yang kurang tepat, selain akan membahayakan keselamatan diri sendiri, juga akan merugikan pendaki lain.

Selain itu, penting untuk memperhatikan hal-hal detail seputar pemilihan lokasi tempat berkemah. Salah satu contoh yang bisa disebutkan adalah jangan berkemah terlalu dekat dengan sumber air, karena hewan liar di gunung membutuhkan air untuk minum.

Etika Pendaki: Memilih Tempat Berkemah yang Tepat
ID – @nelly_damayanti_siagian

Sekian informasi tentang etika seorang pendaki gunung. Mudah-mudahan dapat bermanfaat buatmu. Salam lestari*